Jumat, 08 Juli 2011

'LURIK' traditional become modern fabric

1. Sejarah Lurik
Salah satu artefak dari budaya Jawa adalah lurik. Lurik berasal dari bahasa Jawa kuno lorek yang berarti lajur atau garis, belang dan dapat pula berarti corak. Lurik merupakan kain tenun yang terbuat dari kapas. Di Jawa Tengah kain tenun bercorak lajur atau lajuran dan belang-belang dinamakan lurik. Lurik banyak ditemukan di pulau Jawa, khususnya daerah Yogyakarta dan Solo.Bahasa Jawa kuno lorek berarti lajur atau garis, belang dan dapat pula berarti corak. Maka dapat dipahami mengapa di Jawa Tengah kain tenun bercorak lajur atau lajuran dan belang-belang akhirnya dinamakan lurik. Dapat dipastikan bahwa kain corak kotak-kotak atau cacahan dinamakan pula lurik, karena corak kotak-kotak terdiri dari garis-garis yang bersilangan.
Berbagai kain tenun di Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai pelindung tubuh dan penutup aurat, melainkan lebih dari itu. Arifah A. Riyanto (2003:2) menggungkapkan bahwa yang dimaksud dengan busana dalam arti umum adalah bahan tekstil atau bahan lainnya yang sudah dijahit atau tidak dijahit yang dipakai atau disampirkan untuk penutup tubuh seseorang. Sama halnya dengan kegunaan lurik sebagai sebuah kain, selain dapat digunakan untuk menutupi dan melindungi tubuh, lurik juga memiliki makna lebih secara konotasi.
Makna simbolis yang terdapat dalam kain lurik antara lain adalah bahwa kain lurik dapat dikaitkan dengan berbagai kepercayaan dan ikut mengiringi berbagai upacara agama, ritual dan adat sepanjang daur kehidupan manusia. (Nian. S. Djoemena, 2000:1). Ada yang dianggap sakral yang memberikan petuah, ada pula yang mensiratkan nasihat, petunjuk, harapan dan sebagainya. Di lingkungan keraton Yogyakarta, cara dan jenis berbusana yang digunakan mempunyai ketentuan tersendiri karena dari cara berbusana seseorang dapat diketahui pangkat, derajat dan keturunannya. Khususnya bagi wanita dapat diketahui ia masih gadis atau sudah menikah, ia seorang selir raja, isteri seorang sentono atau istri seorang abdi dalam.
2. Corak dan Nama Lurik Yogyakarta dan Solo
Pada hakikatnya corak lurik secara garis besar dapat dibagi ke dalam tiga corak dasar, yaitu :
a. Corak Lajuran, corak dimana lajur/garis-garisnya membujur searah benang lusi.
b. Corak Pakan Malang, corak dimana lajur/garis-garisnya melintang searah benang pakan.
c. Corak kotak-kotak/cacahan, corak yang terjadi dari persilangan antara corak lajuran dan corak pakan malang.
Terciptanya tenun lurik di Jawa, di samping karena dilatarbelakangi oleh alam pikiran kepercayaan orang Jawa yang dipenuhi dengan mitos, magis, religi dan mistik juga karena dilatarbelakangi oleh faktor lingkungan alam yang mendukung.
Menurut Mochtar Lubis (Hasanudin 2001:33), menggungkapkan bahwa:
“Manusia Indonesia artistik. Karena sikapnya yang memasang roh, sukma, jiwa, tuah dan kekuasaan pada segala benda alam di sekelilingnya, maka manusia Indonesia dekat dengan alam. Dia hidup lebih banyak dengan naluri, dengan perasaannya, dengan perasaan-perasaan sensualnya dan semua ini mengembangkan daya artistik dan kerajinan yang sangat indah-indah dan serba aneka ragam macamnya, variasinya, warna-warninya.”

Pendapat yang dikemukan oleh Mochtar Lubis sangat sesuai dengan sikap dan karakteristik masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur yang merupakan wilayah agraris. Letaknya di daerah subur, di antara lembah-lembah yang dikelilingi gunung berapi, maka kehidupan dan perekonomian rakyat tertumpu pada pengolahan pertanian. Dari lingkungan alam yang subur ini sangat mendukung tumbuhnya beraneka ragam tanaman yang dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia, yang dapat digunakan sebagai bahan pangan dan bahan sandang seperti pohon kapas, mengkudu, secang, cempedak, papaya, dan palem.
Masyarakat Jawa yang penuh simbolisme, membagi tanaman sebagai benda menjadi dua golongan: benda yang berkekuatan magis dan benda yang tidak memiliki kekuatan magis (Isa Iskandar Usman, 1988:206), sehingga dalam perkembangannya nama-nama corak lurik diambil dari nama flora dan fauna di sekitarnya yang memberikan manfaat bagi mereka.
3. Lurik Masa Kini
Lurik sebagai kain tradisional dapat diangkat kembali melalui proses adopsi dan adaptasi ke dalam berbagai macam gaya, jenis dan kesempatan berbusana. Lurik kini dibuat menjadi lebih modern. Lurik juga dapat dibuat menjadi beraneka ragam jenis busana, baik untuk wanita maupun pria, lurik juga dapat digunakan sebagai blus, kemeja, skirt (rok) dan bebe.



Nah ini adalah hasil desain dan produk yang saya buat berupa evening dress dari kain LURIK.. ..warna nya yg beragam dan motif bergarisnya cocok banget di padupadankan dengan bahan polos lainnya, seperti thai silk.It's such a great combination guys :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar